DETAIL BERITA

WEBINAR LITERASI DIGITAL MAPPI: AGAR MASYARAKAT CAKAP TEKNOLOGI DIGITAL

Pada kesempatan tersebut, Presiden RI, Bapak Jokowi memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021. Kedaulatan dan kemandirian digital bangsa Indonesia menjadi salah satu fokus arahan Bapak Presiden Joko Widodo yang mengajak seluruh elemen bangsa memanfaatkan konektivitas digital agar dapat menghubungkan Indonesia dengan pola pikir, kesempatan bisnis global, dan masa depan baru. Penyiapan talenta digital yang cakap dalam menghadapi era disrupsi digital, menjadi salah satu penggerak utama pemanfaatan konektivitas digital yang produktif sebagai perwujudan agenda transformasi digital Indonesia. Sebagai perwakilan Pemerintah Kabupaten Mappi, yaitu Juventius Satriyo Setyo Utomo, S.Sos., selaku Kepala Bidang Pengelolaan dan Layanan Informasi Publik Dinas Kominfo Mappi menyampaikan tujuan Program Literasi Digital Nasional merupakan bagian dari upaya percepatan transformasi digital khususnya terkait pengembangan sumber daya manusia (SDM) digital. Internet harus mampu meningkatkan produktivitas sehingga memberi nilai tambah ekonomi bagi seluruh masyarakat khususnya masyarakat Mappi. “Literasi Digital merupakan pekerjaan besar, sehingga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu mendapat dukungan dari semua pihak agar semakin banyak masyarakat yang cakap dalam menggunakan teknologi digital, dan bermanfaat dalam membangun daerahnya”, ujar Juvent. Selanjutnya Webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra sebagai moderator memberikan waktu kepada narasumber untuk memaparkan materinya.

NANNETTE JACOBUS (Account Manager Frente Indonesia & Social Media Enthusiast), pada sesi KEAMANAN DIGITAL. Nannette memaparkan tema “REKAM JEJAK DI ERA DIGITAL”. Dalam pemaparannya, Nannette menjelaskan Jejak Digital atau Digital Footprint adalah tapak data yang tertinggal setelah kita beraktivitas di internet, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Jenis jejak digital terdiri dari jejak digital pasif dan jejak digital aktif. Jejak digital aktif merupakan data yang sengaja dibuat untuk ditinggalkan penggunanya, sedang jejak digital pasif merupakan data yang ditinggalkan penggunanya tanpa disadari. Berdamai dengan digital merupakan syarat untuk menguasai digital. Manusia harus pintar dalam memanfaatkan media sosial untuk konten yang positif karena, jejak digital tidak bisa hilang selamanya. Maka kelola jejak digital dengan baik.

Dilanjutkan dengan sesi ETIKA DIGITAL oleh, ALBERTUS FIHARSONO, Ph.D. (Dosen Bahasa Inggris KPG Khas Papua Merauke). Albertus mengangkat tema “KRITIS DAN BIJAK DALAM BERMEDIA SOSIAL DI ERA POST TRUTH”. Dalam paparannya, Post Truth berkembang pesat di masyarakat informasi yang mengalami ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap kondisi sosial-politik-ekonomi. Dengan demikian internet dan media sosial harus ada dalam kendali kita untuk mempermudah kehidupan dan membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik.

Sesi BUDAYA DIGITAL oleh, ANDI FAUZIAH ASTRID, S.Sos., M.Si. (Dosen Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar). Astrid memberikan materi dengan tema “INTERNALISASI NILAI PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA SEBAGAI WARGA NEGARA DIGITAL”. Astrid menjelaskan dalam konteks ke-Indonesiaan, sebagai warga negara digital, tiap individu memiliki tanggung jawab (meliputi hak dan kewajiban) untuk melakukan seluruh aktivitas bermedia digitalnya berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila dan BhinnekaTunggal Ika. Melandasi diri ketika produksi dan distribusi konten digital, berpartisipasi dan berkolaborasi dengan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika akan mengarahkan kita pada aktivitas digital yang pancasilais.

Webinar diakhiri oleh, ICHSAN COLLY (Photographer). Ichsan menuturkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, bahwa manusia harus pintar dalam memanfaatkan dunia digital.Fotografer profesional menggeluti fotografi punya tujuan untuk mencari penghasilan dan bisa hidup dengan penghasilannya itu. Fotografer amatir menekuni fotografi hanya untuk tujuan hiburan atau sekadar menekuni hobi. Sejak adanya revolusi digital, perubahan habit terjadi di berbagai bidang termasuk fotografi. Dunia fotografi juga semakin menarik berkat media sosial. Ia menambahkan, peluang bisnis fotografi dan videografi di Indonesia masih cukup baik, karena perkembangan pengguna media sosial dan kecepatan internet yang terus meningkat. Banyak orang yang menikmati hasil karya influencer seperti para youtuber sehingga banyak pula orang yang ingin menjadi salah satu dari mereka. "Karenanya para pelaku usaha akan beralih ke digital marketing untuk mempromosikan produk mereka. Hal ini membuat mereka membutuhkan perlengkapan yang lengkap serta berkualitas untuk bisa berkarya dengan bebas dan menggunakan kreativitas mereka," ujarnya. (jurnalis portal.mappikab.go.id)

Oleh : ADMIN WEB | 10 Agustus 2021 | Dibaca : 83 Pengunjung